Siklus haid perempuan dipengaruhi oleh berbagai macam hormon. Siklus ini dimulai ketika Gonadotropin-Releasing Hormone (GnRH) dari hipotalamus melepaskan Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone (LH) dari hipofisis anterior. FSH menstimulasi pertumbuhan folikel ovarium yang kemudian akan menjadi matur dan menghasilkan estrogen. Estrogen menyebabkan terjadinya proliferasi sel-sel endometrium, yang dikenal sebagai fase proliferasi atau fase folikuler. Estrogen yang tinggi ini memberi tanda kepada hipofisis untuk mengeluarkan LH yang menyebabkan terjadinya ovulasi dan memicu korpus luteum untuk mensintesis progesteron. Progesteron menyebabkan terjadinya perubahan sekretorik pada endometrium, yang dikenal sebagai fase sekresi atau fase luteal. Fase sekresi biasanya selalu tetap yaitu 14 hari, sedangkan fase proliferasi dapat berkisar 7-21 hari. Konsentrasi estrogen akan meningkat secara bertahap selama fase folikuler dan menyebabkan penebalan endometrium uterus. Peningkatan kadar estrogen menghambat sekresi FSH, dan folikel matur yang sudah ada akan mengalami atresia. Folikel dominan ini akan menghasilkan sejumlah besar estrogen, yang merangsang peningkatan LH. Puncak peningkatan LH mempunyai lebih dari tiga fungsi, diantaranya adalah menghambat produksi estrogen dari sel folikuler, menyebabkan perubahan pada folikel dominan yang akan pecah dan melepaskan ovum (ovulasi), dan membawa folikel yang telahpecah itu ke korpus luteum, menyebabkan sintesis estrogen dan progesteron
Wednesday, November 24, 2010
Infeksi TORCH pada Kehamilan
I. Pendahuluan
Ibu hamil dengan janin yang dikandungnya sangat peka terhadap infeksi dan penyakit menular. Beberapa diantaranya meskipun tidak mengancam nyawa ibu, tetapi dapat menimbulkan dampak pada janin dengan akibat antara lain abortus, pertumbuhan janin dan sering dikaitkan dengan hal-hal di atas. Besarnya pengaruh infeksi tersebut tergantung dari virulensi agennya, umur kehamilan serta imunitas ibu bersangkutan saat infeksi berlangsung. Infeksi TORCH ialah penyakit infeksi intrauterin atau yang didapat pada masa perinatal; merupakan singkatan dari T = Toksoplasmosis O = other yaitu penyakit lain misalnya sifilis, HIV-1dan 2, dan Sindrom Imunodefisiensi Didapat ( Acquired Immune Deficiency Syndrome/AIDS),dan sebagainya ; R = Rubela (campak Jerman); C = Cytomegalovirus; H = Herpes simpleks. Infeksi Toxoplasma pada trimester pertama kehamilan dapat mengenai 17% janin dengan akibat abortus, cacat bawaan dan kematian janin dalam kandungan, risiko gangguan perkembangan susunan saraf, serta retardasi mental. Infeksi TORCH saat kehamilan trimester berikutnya bisa menyebabkan hidrosefalus dan retinitis. Infeksi rubella erat kaitannya dengan kejadian pertumbuhan bayi terhambat, patent ductus Botalli, stenosis
Tuesday, November 23, 2010
MALARIA DALAM KEHAMILAN
PENDAHULUAN
Infeksi malaria sampai saat ini masih merupakan problem klinik di negara-negara berkembang terutama negara yang beriklim tropik, termasuk Indonesia dimana malaria masih merupakan penyakit infeksi utama di kawasan Timur Indonesia. Infeksi ini dapat menyerang semua kelompok masyarakat, termasuk wanita hamil yang merupakan golongan paling rentan, sehingga penyakit ini merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang mempengaruhi angka kesakitan dan kematian bayi, balita dan ibu hamil, sehingga salah satu bagian terpenting dalam upaya pemberantasan malaria adalah penanganan kasus malaria baik ringan maupun berat, oleh karena itu pengembangan manajemen kasus malaria sangat diperlukan agar terjadi peningkatan mutu dalam penatalaksanaan kasus malaria pada semua tingkat pelayanan kesehatan.
Infeksi malaria pada kehamilan sangat merugikan baik bagi ibu dan janin yang dikandungnya, karena dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas ibu maupun janin. Pada ibu menyebabkan anemi, malaria serebral, edema paru, gagal ginjal bahkan dapat menyebabkan kematian. Pada janin menyebabkan abortus, persalinan prematur, berat badan lahir rendah, dan kematian janin. Infeksi malaria pada wanita hamil sangat mudah terjadi karena adanya perubahan sistim imunitas ibu selama kehamilan, baik imunitas seluler maupun imunitas humoral, serta diduga juga akibat peningkatan horman kortisol pada wanita selama kehamilan.
Monday, November 22, 2010
FUNGSI ASAM FOLAT PADA IBU HAMIL
PENDAHULUAN
Pengaruh dari status gizi folat pada berbagai hasil kehamilan telah lama dikenal. Studi yang dilakukan di tahun 1950 dan 1960-an memberikan pengakuan dari suplemen asam folat prenatal sebagai sarana untuk mencegah anemia megaloblastik akibat kehamilan. Dalam 1990-an, kegunaan suplementasi asam folat perikonsepsi dan makanan fortifikasi asam folat muncul ketika terbukti dapat mencegah cacat lahir, termasuk setidaknya 50% dari cacat tabung saraf. Asam Folat merupakan salah satu dari kelompok vitamin B, merupakan zat yang larut dalam air dan cepat rusak bila terpapar panas. Nama folat berasal dari bahasa latin
Folium (artinya daun) yang umumnya mengandung banyak zat folat. Asam folat dapat ditemukan secara alami pada sayuran hijau seperti bayam, brokoli, pok coy, asparagus. Kini asam folat dibuat secara sintetis sebagai suplemen atau ditambahkan sebagai fortifikasi makanan tambahan seperti sereal dan susu. Asam folat disebut juga dengan folacin/ liver lactobacillus cosil factor/ factor U dan factor R atau vitamin B11.
Folium (artinya daun) yang umumnya mengandung banyak zat folat. Asam folat dapat ditemukan secara alami pada sayuran hijau seperti bayam, brokoli, pok coy, asparagus. Kini asam folat dibuat secara sintetis sebagai suplemen atau ditambahkan sebagai fortifikasi makanan tambahan seperti sereal dan susu. Asam folat disebut juga dengan folacin/ liver lactobacillus cosil factor/ factor U dan factor R atau vitamin B11.
Monday, June 28, 2010
INDUKSI DAN AKSELERASI PERSALINAN
DEFINISI
Induksi persalinan adalah intervensi obstetri yang lazim dilakukan, terutama bila risiko lebih besar untuk ibu dan janin bila kehamilan dilanjutkan. Induksi persalinan dapat dilakukan atas indikasi medis atau indikasi obstetrik (seperti hipertensi, gangguan toleransi glukosa, masa kehamilan memanjang, keterbatasan perkembangan intrauterine), atau untuk kenyamanan ibu dan ahli obstetri. Literatur awal menyebutkan bahwa sejak tahun 1500an telah dilakukan induksi persalinan, dengan campuran buah beri juniper, kayu manis, dan minyak castor yang digunakan untuk mempercepat kelahiran. Dalam abah ke-18, konsep induksi persalinan digunakan untuk mempercepat kelahiran pada wanita dengan pelvis yang sempit, ditemani oleh bidan yang berpengalaman menggunakan ergot sebagai agen induksi. Ergot adalah agen fungal yang pada prinsipnya menyerang gandum dan padi-padian, namun bila dikonsumsi akan menyebabkan gangguan gastrointestinal. Hampir satu abad kemudian, Henry Dale meneliti sediaan dari jaringan pituitary sapi dapat menginisiasi kontrasi uterus pada kucing hamil,. Davis dan kawan-kawan mengekstraksi komponen aktif dari alkaloid ergot, memperlihatkan efek uterotoniknya (1935), diikuti oleh Du Vigneaud mengidentifikasi oksitosin dan vasopressin dari ekstrak pituitari, yang mengarahkan pada purifikasi sediaan sintesis Syntocinon pada tahun 1953. Pengembangan syntocinon menyediakan pilihan titrasi secara intravena untuk menghasilkan metode yang lebih efektif dan prediktif pada induksi persalinan. Pengertian induksi dan augmentasi persalinan sering disalah artikan dikarenakan kesamaan metodologinya. Induksi menyangkut memajukan waktu persalinan, seperti pada seksio sesaria elektif. Augmentasi persalinan adalah dimana proses persalinan, yang telah dimulai secara spontan, diakselerasi dengan pemberian agen oksitosin atau amniotomi. Hal ini lebih menyerupai keadaan sesaria emergensi dalam pengertian intervensi obstetrik.
Friday, June 25, 2010
Farmakoterapi Wanita Infertil
PENDAHULUAN
Infertilitas terjadi pada sekitar 10 hingga 15% pasangan dan menjadi permasalahan medis bagi sekitar 2.7 juta wanita dengan usia reproduksi di Amerika Serikat. Setiap tahun setidaknya 1.3 juta wanita mencari penanganan medis dan konsultasi. Angka ini telah meningkat seiring dengan perubahan demografis pada keadaan sosial.Dalam beberapa dekade terakhir, penanganan yang terbukti berhasil untuk seluruh jenis infertilitas telah dikembangkan dan memberikan harapan bagi pasangan untuk dapat keluar dari keadaan ini. Infertilitas didefinisikan sebagai tidak terjadinya konsepsi pada pasangan dalam waktu satu tahun walaupun berhubungan seksual tanpa kontrasepsi. Kesuburan adalah adanya peluang terjadinya konsepsi dalam satu siklus menstruasi dan kesuburan untuk satu siklus biasanya digunakan untuk mengidentifikasi angka keberhasilan dari penatalaksanaan infertilitas. Diharapkan sekitar 15 hingga 25% wanita muda yang sehat dapat hamil dalam satu siklus, walaupun jelas bahwa peluang terjadinya konsepsi menurun pada tahun pertama tanpa kontrasepsi yang menjadikan terjadinya infertilitas pada pasangan. Penurunan kesuburan terjadi pada wanita pada pertengahan usia 30 tahun, menjadikannya mulai untuk melakukan evaluasi dan penatalaksanaan inferilitas pada kelompok usia ini setelah 6 bulan kegagalan terjadinya kehamilan. Ketika salah satu atau kedua anggota dari pasangan memiliki riwayat yang mengarahkan akan adanya potensi gangguan reproduksi, maka pemeriksaan diagnostik sebaiknya segera dimulai. Maka, penting bagi penyedia layanan kesehatan primer dan obstertician-gynecologist untuk melakukan anamnesia dan pemeriksaan fisik
Infertilitas terjadi pada sekitar 10 hingga 15% pasangan dan menjadi permasalahan medis bagi sekitar 2.7 juta wanita dengan usia reproduksi di Amerika Serikat. Setiap tahun setidaknya 1.3 juta wanita mencari penanganan medis dan konsultasi. Angka ini telah meningkat seiring dengan perubahan demografis pada keadaan sosial.Dalam beberapa dekade terakhir, penanganan yang terbukti berhasil untuk seluruh jenis infertilitas telah dikembangkan dan memberikan harapan bagi pasangan untuk dapat keluar dari keadaan ini. Infertilitas didefinisikan sebagai tidak terjadinya konsepsi pada pasangan dalam waktu satu tahun walaupun berhubungan seksual tanpa kontrasepsi. Kesuburan adalah adanya peluang terjadinya konsepsi dalam satu siklus menstruasi dan kesuburan untuk satu siklus biasanya digunakan untuk mengidentifikasi angka keberhasilan dari penatalaksanaan infertilitas. Diharapkan sekitar 15 hingga 25% wanita muda yang sehat dapat hamil dalam satu siklus, walaupun jelas bahwa peluang terjadinya konsepsi menurun pada tahun pertama tanpa kontrasepsi yang menjadikan terjadinya infertilitas pada pasangan. Penurunan kesuburan terjadi pada wanita pada pertengahan usia 30 tahun, menjadikannya mulai untuk melakukan evaluasi dan penatalaksanaan inferilitas pada kelompok usia ini setelah 6 bulan kegagalan terjadinya kehamilan. Ketika salah satu atau kedua anggota dari pasangan memiliki riwayat yang mengarahkan akan adanya potensi gangguan reproduksi, maka pemeriksaan diagnostik sebaiknya segera dimulai. Maka, penting bagi penyedia layanan kesehatan primer dan obstertician-gynecologist untuk melakukan anamnesia dan pemeriksaan fisik
Thursday, June 24, 2010
KANKER OVARIUM DALAM KEHAMILAN
Kanker adalah suatu masalah, terutama jika dialami oleh seorang wanita yang sementara hamil, apalagi jika kehamilan tersebut sangat diharapkan Walaupun kanker merupakan penyebab kedua terbanyak penyebab kematian pada usia reproduktif, namun angka kejadian kanker pada wanita hamil relatif jarang ditemukan. Penanganan diagnostik dan terapeutik terhadap wanita hamil sangat sulit dan diperlukan suatu kehati-hatian mengingat menyangkut dua jiwa, ibu dan janin yang dikandungnya.
Thursday, May 13, 2010
PROGESTIN ONLY CONTRACEPTION
PENDAHULUAN
Dalam lima dekade terakhir, terdapat perkembangan dan kemajuan yang sangat signifikan dalam teknologi kontrasepsi. Pilihan kontrasepsi yang kita miliki hari ini adalah lebih aman dari yang dikembangkan pada tahun-tahun sebelumnya. Semua metode kontrasepsi yang terdapat dipasaran hari ini dihubungkan dengan banyak manfaat kontrasepsi dan non-kontrasepsi yang akan memperbaiki kualitas dan kuantitas gaya hidup pengguna. Kini petugas kesehatan reproduksi juga mulai banyak memperhatikan isu-isu yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi seperti dismenorea, akne, sindroma premenstrual, penyakit menular seksual, iregularitas menstruasi, gejala-gajala menopause juga masalah infertilitas dan perencanaan kehamilan.Walaupun dengan perkembangan teknologi kontrasepsi dan peningkatan pilihan kontrasepsi yang aman dan efektif di pasaran, kehamilan yang tidak di ingini tetap menjadi suatu isu kesehatan yang signifikan. Lebih dari 2.5 juta kehamilanyang tidak diingini di Amerika Serikat merupakan bagian dari semua kehamilan yang terdapat di US. Sepanjang usia reproduksi, sebanyank 48% wanita mengalami kehamilan yang tidak diinginkan terutama dari golongan remaja dan wanita dari golongan miskin.
Thursday, May 6, 2010
RUPTUR PERINEUM
Pendahuluan
Robekan perineum terjadi pada hampir semua persalinan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Robekan ini juga dapat dihindarkan atau dikurangi dengan menjaga jangan sampai dasar panggul dilalui oleh kepala janin dengan cepat. Sebaliknya kepala janin yang akan lahir jangan ditahan terlampau kuat dan lama, karena akan menyebabkan asfiksia dan perdarahan dalam tengkorak janin, dan melemahkan otot-otot dan fasia pada dasar panggul karena diregangkan terlalu lama.
Robekan perineum umumnya terjadi di garis tengah dan bisa menjadi luas apabila kepala janin lahirterlalu cepat, sudut arkus pubis lebih kecil daripada biasa sehingga kepala janin terpaksa lahir lebih ke belakang daripada biasa, kepala janin melewati pintu bawah panggul dengan ukuran yang lebih besar daripada sirkumferensia suboksipito-bregmatika, atau anak dilahirkan dengan pembedahan vaginal.
Faktor resiko untuk terjadi robekan perineum ialah pada nulliparitas, berat janin lebih dari 4000 gram, dan persalinan pervaginam memakai alat. Resiko dari robekan perineum dapat dikurangi dengan proteksi perineum yang adekuat atau sokongan sebelum melahirkan kepala bayi. Robekan spontan biasa terjadi pada wanita primipara dengan pengalaman kala II yang terlalu cepat sehingga tidak ada kesempatan untuk distensi dan relaksasi dasar panggul atau kala II memanjang dengan edema perineal.
Thursday, April 29, 2010
GIZI BURUK DALAM KEHAMILAN
By : Darmayanti
I. PENDAHULUAN
I. PENDAHULUAN
Gizi buruk atau yang disebut juga malnutrisi merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat terutama di negara-negara berkembang dan mendapat perhatian internasional. Keadaan ini mempengaruhi seluruh tingkatan usia kehidupan, mulai dari pertumbuhan janin, bayi, anak-anak, ibu hamil dan menyusui. Malnutrisi adalah suatu keadaan di mana tubuh mengalami gangguan dalam penggunaan zat gizi untuk proses pertumbuhan, perkembangan dan aktivitas. Malnutrisi dapat disebabkan oleh kurangnya asupan makanan maupun adanya gangguan terhadap absorbsi, pencernaan dan penggunaan zat gizi dalam tubuh. Malnutrisi pada ibu hamil masih sering ditemukan di seluruh dunia, terutama dinegara-negara berkembang termasuk Indonesia. Ibu hamil merupakan kelompok yang rawan gizi. Kekurangan gizi pada ibu hamil mempunyai dampak yang cukup besar terhadap proses pertumbuhan janin dan anak yang akan dilahirkan. Malnutrisi pada ibu hamil menyebabkan komplikasi terhadap pertumbuhan janin dan menimbulkan berbagai penyulit pada persalinan.
II. INSIDENS DAN EPIDEMIOLOGI Insiden terjadinya malnutrisi pada wanita hamil sampai saat ini adalah mencapai 30% dari kesuluruhan populasi dunia. Dari studi penelitian yang dilakukan pada 1387 wanita hamil (sebanyak 910 wanita hamil di wilayah perkotaan dan 477 wanita hamil di wilayah pedesaan), berdasarkan indeks antropometri dari berat badan dan tinggi badan atau indeks massa tubuh ditemukan lebih banyak ibu hamil menderita gizi buruk di daerah pedesaan dibanding wanita hamil yang tinggal didaerah perkotaan. Hal ini disebabkanoleh faktor predisposisi seperti usia, tingkat pendidikan, paritas dan jarak kehamilan. Pendidikan kesehatan masyarakat di Canada (tahun 1998-1999) melaporkan bahwa wanita hamil yang berasal dari keluarga yang berpendapatan rendah memiliki kesulitan untuk mendapatkan gizi yang baik dan seimbang.
Data dari Departemen kesehatan RI tahun 1996, menunjukkan masalah gizi pada ibu hamil yang terbanyak adalah Kurang Energi Kronis (KEK) dan Anemia gizi. Data tersebut menyimpulkan bahwa sekitar 41% ibu hamil menderita KEK dan 51% yang menderita anemia. Hasil penelitian Edwi Saraswati dan kawan-kawan di Jawa Barat (1998) menunjukkan bahwa ibu hamil dengan KEK dengan Lingkar Lengan Atas (LILA) < 23 cm mempunyai risiko 2,0087 kali untuk melahirkan BBLR dibandingkan dengan ibu yang
mempunyai LILA lebih dari 23 cm. Hasil penelitian Jumirah dan kawan-kawan (1999) menunujukkan bahwa ada hubungan antara kadar Hemoglobin (Hb) ibu hamil dengan berat bayi lahir, dimana semakin tinggi kadar Hb ibu semakin tinggi berat badan bayi yang dilahirkan.
Data dari Departemen kesehatan RI tahun 1996, menunjukkan masalah gizi pada ibu hamil yang terbanyak adalah Kurang Energi Kronis (KEK) dan Anemia gizi. Data tersebut menyimpulkan bahwa sekitar 41% ibu hamil menderita KEK dan 51% yang menderita anemia. Hasil penelitian Edwi Saraswati dan kawan-kawan di Jawa Barat (1998) menunjukkan bahwa ibu hamil dengan KEK dengan Lingkar Lengan Atas (LILA) < 23 cm mempunyai risiko 2,0087 kali untuk melahirkan BBLR dibandingkan dengan ibu yang
mempunyai LILA lebih dari 23 cm. Hasil penelitian Jumirah dan kawan-kawan (1999) menunujukkan bahwa ada hubungan antara kadar Hemoglobin (Hb) ibu hamil dengan berat bayi lahir, dimana semakin tinggi kadar Hb ibu semakin tinggi berat badan bayi yang dilahirkan.
III. ETIOLOGI
Kurangnya asupan makanan dan adanya penyakit merupakan penyebab langsung malnutrisi pada wanita hamil yang paling penting. Penyakit, khususnya penyakit infeksi, mempengaruhi jumlah asupan makanan dan penggunaan nutrisi oleh tubuh. Kurangnya asupan makanan sendiri dapat disebabkan oleh kurangnya jumlah makanan yang diberikan, kurangnya kualitas makanan dan cara pemberian makanan yang salah. Penyebab tidak langsung yang dapat menyebabkan malnutrisi pada ibu hamil adalah kondisi social ekonomi rendah, tingkat pengetahuan ibu dan keluarga, pelayanan kesehatan serta sanitasi lingkungan. Status social ekonomi mempengaruhi kemampuan keluarga untuk menghasilkan atau mendapatkan bahan makanan. Sanitasi lingkungan berpengaruh terhadap kesehatan produksi bahan makanan dan persiapan makanan yang akan dikonsumsi. Pelayanan kesehatan bukan hanya harus tersedia, namun juga harus dapat diakses dengan mudah oleh ibu. Status pendidikan ibu yang rendah menyebabkan kurangnya kemampuan untuk memperbaiki status gizinya. Adapun penyebab yang paling dasar dan sangat berpengaruh yaitu kondisi sosial, politik dan ekonomi suatu negara.
Pada tahun 1970 National Academy of Science United Kingdom, menegaskan tentang resiko terhadap bayi bagi ibu yang membatasi pertambahan berat badan dan diet selama hamil dan menganjurkan untuk mencapai pertambahan berat badan yang optimal yakni 11 kg selama hamil. Pengaruh nutrisi pada kehamilan dan persalinan sangat penting dimana peningkatan berat badan yang optimal dan sehat selama hamil diharapkan akan mencapai usia kehamilan yang cukup bulan (aterm), tumbuh kembang janin yang baik, komplikasi selama hamil dan persalinan yang minimal dan pada akhirnya akan menunjang kondisi ibu selama masa laktasi dan sesudahnya. Ibu hamil yang menderita gizi kurang (IMT < 19,8) dengan peningkatan berat badan selama hamil yang tidak adekuat akan melahirkan bayi dengan berat lahir rendah (< 2500 gram ).
Kurangnya asupan makanan dan adanya penyakit merupakan penyebab langsung malnutrisi pada wanita hamil yang paling penting. Penyakit, khususnya penyakit infeksi, mempengaruhi jumlah asupan makanan dan penggunaan nutrisi oleh tubuh. Kurangnya asupan makanan sendiri dapat disebabkan oleh kurangnya jumlah makanan yang diberikan, kurangnya kualitas makanan dan cara pemberian makanan yang salah. Penyebab tidak langsung yang dapat menyebabkan malnutrisi pada ibu hamil adalah kondisi social ekonomi rendah, tingkat pengetahuan ibu dan keluarga, pelayanan kesehatan serta sanitasi lingkungan. Status social ekonomi mempengaruhi kemampuan keluarga untuk menghasilkan atau mendapatkan bahan makanan. Sanitasi lingkungan berpengaruh terhadap kesehatan produksi bahan makanan dan persiapan makanan yang akan dikonsumsi. Pelayanan kesehatan bukan hanya harus tersedia, namun juga harus dapat diakses dengan mudah oleh ibu. Status pendidikan ibu yang rendah menyebabkan kurangnya kemampuan untuk memperbaiki status gizinya. Adapun penyebab yang paling dasar dan sangat berpengaruh yaitu kondisi sosial, politik dan ekonomi suatu negara.
Pada tahun 1970 National Academy of Science United Kingdom, menegaskan tentang resiko terhadap bayi bagi ibu yang membatasi pertambahan berat badan dan diet selama hamil dan menganjurkan untuk mencapai pertambahan berat badan yang optimal yakni 11 kg selama hamil. Pengaruh nutrisi pada kehamilan dan persalinan sangat penting dimana peningkatan berat badan yang optimal dan sehat selama hamil diharapkan akan mencapai usia kehamilan yang cukup bulan (aterm), tumbuh kembang janin yang baik, komplikasi selama hamil dan persalinan yang minimal dan pada akhirnya akan menunjang kondisi ibu selama masa laktasi dan sesudahnya. Ibu hamil yang menderita gizi kurang (IMT < 19,8) dengan peningkatan berat badan selama hamil yang tidak adekuat akan melahirkan bayi dengan berat lahir rendah (< 2500 gram ).
IV. PATOGENESIS
Pertumbuhan janin merupakan hasil interaksi antara potensi genetik dan lingkungan di dalam uterus. Wanita yang memasuki masa kehamilan dalam keadaan sehat, status fungsi reproduksi yang baik, tidak menderita penyakit kronis dan tidak bermasalah dengan status gizinya dapat melahirkan bayi yang lebih sehat.
Pertumbuhan janin merupakan hasil interaksi antara potensi genetik dan lingkungan di dalam uterus. Wanita yang memasuki masa kehamilan dalam keadaan sehat, status fungsi reproduksi yang baik, tidak menderita penyakit kronis dan tidak bermasalah dengan status gizinya dapat melahirkan bayi yang lebih sehat.
PERTUMBUHAN FETUS
Penelitian tentang hubungan antara nutrisi dengan pertumbuhan janin sangat berkembang. Hubungan antara masukan nutrisi pada makanan ibu dan efeknya terhadap janin telah dibuktikan melalui percobaan pada hewan. Korelasi antara pertumbuhan fetus dan diet ibu hamil dapat dilihat pada berat badan bayi lahir yang diteliti secara epidemiologik pada wanita-wanita dari kelompok sosial yang berbeda, dan pengamatan-pengamatan serupa selamapeperangan dan kelaparan. Pada akhir trimester pertama kehamilan, berat janin kira-kira 30 gram, dengan perbandingan kebutuhan gizi yaitu 500 miligram nitrogen, lebih dari 300 miligram kalsium dan 200 miligramg fosfor. Maksimum tingkat pertumbuhan fetus selama 32-38 minggu kehamilan adalah jika berat badan mencapai dua kali lipat. Pada wanita hamil yang sehat, terjadi peningkatan akumulasi lemak selama awal trimester pertama kehamilan dan sangat berperan dalam pertumbuhan fetus. Cadangan lemak ibu ditransfer melalui plasenta, beserta badan keton dan gliserol. Lemak, badan keton dan gliserol digunakan oleh janin sebagai bahan bakar untuk metabolisme oksidatif seperti lipogenesis. Trigliserida dalam darah ibu tidak melewati sawar plasenta, tetapi terdapat lipoprotein (sel yang peka terhadap rangsangan) pada plasenta seperti lipase dan enzim-enzim lain memungkinkan transfer trigliserida dari plasma ibu. Zat asam yang mengandung lemak bebas di dalam plasma ibu merupakan sumber penting untuk janin. Pengambilan zat-zat tersebut oleh plasenta terjadi melalui proses yang selektif.
Penelitian tentang hubungan antara nutrisi dengan pertumbuhan janin sangat berkembang. Hubungan antara masukan nutrisi pada makanan ibu dan efeknya terhadap janin telah dibuktikan melalui percobaan pada hewan. Korelasi antara pertumbuhan fetus dan diet ibu hamil dapat dilihat pada berat badan bayi lahir yang diteliti secara epidemiologik pada wanita-wanita dari kelompok sosial yang berbeda, dan pengamatan-pengamatan serupa selamapeperangan dan kelaparan. Pada akhir trimester pertama kehamilan, berat janin kira-kira 30 gram, dengan perbandingan kebutuhan gizi yaitu 500 miligram nitrogen, lebih dari 300 miligram kalsium dan 200 miligramg fosfor. Maksimum tingkat pertumbuhan fetus selama 32-38 minggu kehamilan adalah jika berat badan mencapai dua kali lipat. Pada wanita hamil yang sehat, terjadi peningkatan akumulasi lemak selama awal trimester pertama kehamilan dan sangat berperan dalam pertumbuhan fetus. Cadangan lemak ibu ditransfer melalui plasenta, beserta badan keton dan gliserol. Lemak, badan keton dan gliserol digunakan oleh janin sebagai bahan bakar untuk metabolisme oksidatif seperti lipogenesis. Trigliserida dalam darah ibu tidak melewati sawar plasenta, tetapi terdapat lipoprotein (sel yang peka terhadap rangsangan) pada plasenta seperti lipase dan enzim-enzim lain memungkinkan transfer trigliserida dari plasma ibu. Zat asam yang mengandung lemak bebas di dalam plasma ibu merupakan sumber penting untuk janin. Pengambilan zat-zat tersebut oleh plasenta terjadi melalui proses yang selektif.
KEBUTUHAN GIZI JANIN
Protein : Plasenta mengangkut protein terutama asam amino yang kemudian membentuk jaringan pada janin.
Lemak : Lebih dari 500 gram lemak tubuh janin disimpan pada bulan ke lima kehamilan, dan sekitar setengahnya antara bulan ke lima dan kedelapan.
Air : Janin terdiri atas air sekitar 94% dalam wujud selular. Distribusi air antara kompartemen cairan ekstrasel dan intrasel berhubungan dengan peningkatan massa sel tubuh total.
Karbohidrat : Janin membutuhkan 9 gram karbohidrat perhari pada trimester pertama kehamilan, dan meningkat hingga 34 gram pada trimester akhir. Konsentrasiglikogen di dalam otot rangka dan hati meningkat sepanjang trimester akhir kehamilan.
PERAN PLASENTA
Plasenta memegang peran penting dalam perpindahan zat gizi dari ibu ke janin. Selain itu, plasenta dapat menyeleksi zat yang akan ditransfer sebelum sampai ke janin. Penyediaan bahan gizi untuk pertumbuhan janin tergantung dari jumlah darah ibu yang mengalir melalui plasenta dan unsur-unsur zat gizi yang diangkut oleh darah tersebut. Efisiensi plasenta, pengangkutan dan sintesis zat gizi penting dalam menentukan penyediaan zat gizi untuk janin. Faktor-faktor yang mengatur pertumbuhan fetus juga mengatur pertumbuhan plasenta. Dengan begitu, metabolisme plasenta tergantung pada kemampuan pertumbuhan janin yang tentunya berasal dari ibu yang memiliki status gizi baik. Jika ibu mengalami malnutrisi, maka dapat terjadi kelainan pada plasenta berupa kelainan vaskuler plasenta atau terjadi penurunan kemampuan transpor oleh plasenta. MEKANISME TRANSFER PLASENTA
Aliran darah janin sampai ke vili melalui kapiler yang berhubungan langsung di dalam ruang intervillous atau ruang penyaluran langsung darah ibu ke fetus. Beberapa bagian plasenta dengan aktif dilibatkan di dalam perpindahan, sintesis dan pengolahan bahan gizi di bawah pengaruh janin, ibu dan hormon plasenta. Secara relatif, molekul lemak yang larut seperti gas pernapasan dan obat-obatan dapat dengan mudah menembus selaput sel. Molekul-molekul yang larut dalam air seperti urea juga ditransfer dengan mudah melalui difusi atau osmosis. Transfer glukosa dimudahkan oleh molekul pengangkut spesifik. Kebanyakan asam amino, kalium, kalsium, dan fosfor diangkut dari ibu sampai ke janin oleh pengangkut spesifik melalui proses yang membutuhkan energi. Peningkatan aliran darah plasenta penting untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan janin. Wanita yang malnutrisi atau wanita dalam kelompok sosial ekonomi rendah memiliki berat plasenta lebih kecil dari wanita yang berasal dari kelompok sosial lebih tinggi. Plasenta wanita yang mengalami malnutrisi memiliki DNA dan protein yang kurang. Hal ini menunjukkan bahwa banyak sel yang berkurang di dalam plasenta wanita yang menderita malnutrisi. Secara analisis permukaan villus berkurang sehingga area transfer ibu dengan janin berkurang. Berat badan lahir bayi berhubungan dengan bobot plasenta.
NUTRISI IBU HAMIL
Selama kehamilan metabolisme ibu diatur oleh sejumlah hormon, nutrisi dan organ reproduksi khusus seperti plasenta dan duktus laktiferus. Kecukupan nutrisi tidak selalu dijumpai pada diet ibu. Perpindahan mineral seperti kalsium, fosfor dan magnesium melalui plasenta dan kemudian untuk persediaan laktasi. Status fisiologi organ reproduksi ibu sebelum kehamilan juga sangat berpengaruh pada pertumbuhan janin. Telah dilakukan beberapa penelitian yang menghubungkan antara status gizi, organ reproduksi dan status sosial ekonomi. Status gizi ibu sebelum dan selama hamil dapat mempengaruhi pertumbuhan janin yang sedang dikandung. Bila status gizi ibu baik pada masa sebelum dan selama hamil kemungkinan besar akan melahirkan bayi yang sehat, cukup bulan dengan berat badan normal. Dengan kata lain kualitas bayi yang dilahirkan sangat tergantung pada keadaan gizi ibu sebelum dan selama hamil. Ibu hamil yang menderita KEK (kurang energi kronis) dan anemia mempunyai kecenderungan melahirkan bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Ibu hamil yang menderita KEK dan Anemia mempunyai resiko kesakitan yang lebih besar terutama pada trimester III kehamilan dibandingkan dengan ibu hamil normal. Akibatnya mereka mempunyai risiko yang lebih besar untuk melahirkan bayi dengan BBLR, kematian saat persalinan, perdarahan, pasca persalinan yang sulit karena lemah dan mudah mengalami gangguan kesehatan lain. Bayi yang dilahirkan dengan BBLR umumnya kurang mampu menerima tekanan lingkungan yang baru, sehingga berakibat pada terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan,bahkan dapat mengganggu kelangsungan hidupnya. Selain itu juga akan meningkatkan risiko kesakitan dan kematian bayi karena lebih rentan terhadap infeksi saluran pernafasan bawah, gangguan belajar, masalah perilaku dan lain sebagainya
Bila ibu mengalami kekurangan gizi selama hamil akan menimbulkan banyak masalah, baik pada ibu maupun janin, seperti diuraikan berikut ini :
1. Terhadap Ibu
Gizi kurang pada ibu hamil dapat menyebabkan risiko dan komplikasi pada ibu antara lain : anemia, perdarahan dan mudah terkena infeksi.
2. Terhadap Persalinan
Pengaruh gizi kurang terhadap proses persalinan dapat mengakibatkan persalinan yang sulit atau lama, persalinan prematur dan pendarahan post partum.
3. Terhadap Janin
Kekurangan gizi pada ibu hamil dapat mempengaruhi proses pertumbuhan janin dan dapat menimbulkan abortus, bayi lahir mati, kematian neonatal,cacat kongenital, anemia pada bayi, asfiksia intra partum, lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR).
Protein : Plasenta mengangkut protein terutama asam amino yang kemudian membentuk jaringan pada janin.
Lemak : Lebih dari 500 gram lemak tubuh janin disimpan pada bulan ke lima kehamilan, dan sekitar setengahnya antara bulan ke lima dan kedelapan.
Air : Janin terdiri atas air sekitar 94% dalam wujud selular. Distribusi air antara kompartemen cairan ekstrasel dan intrasel berhubungan dengan peningkatan massa sel tubuh total.
Karbohidrat : Janin membutuhkan 9 gram karbohidrat perhari pada trimester pertama kehamilan, dan meningkat hingga 34 gram pada trimester akhir. Konsentrasiglikogen di dalam otot rangka dan hati meningkat sepanjang trimester akhir kehamilan.
PERAN PLASENTA
Plasenta memegang peran penting dalam perpindahan zat gizi dari ibu ke janin. Selain itu, plasenta dapat menyeleksi zat yang akan ditransfer sebelum sampai ke janin. Penyediaan bahan gizi untuk pertumbuhan janin tergantung dari jumlah darah ibu yang mengalir melalui plasenta dan unsur-unsur zat gizi yang diangkut oleh darah tersebut. Efisiensi plasenta, pengangkutan dan sintesis zat gizi penting dalam menentukan penyediaan zat gizi untuk janin. Faktor-faktor yang mengatur pertumbuhan fetus juga mengatur pertumbuhan plasenta. Dengan begitu, metabolisme plasenta tergantung pada kemampuan pertumbuhan janin yang tentunya berasal dari ibu yang memiliki status gizi baik. Jika ibu mengalami malnutrisi, maka dapat terjadi kelainan pada plasenta berupa kelainan vaskuler plasenta atau terjadi penurunan kemampuan transpor oleh plasenta. MEKANISME TRANSFER PLASENTA
Aliran darah janin sampai ke vili melalui kapiler yang berhubungan langsung di dalam ruang intervillous atau ruang penyaluran langsung darah ibu ke fetus. Beberapa bagian plasenta dengan aktif dilibatkan di dalam perpindahan, sintesis dan pengolahan bahan gizi di bawah pengaruh janin, ibu dan hormon plasenta. Secara relatif, molekul lemak yang larut seperti gas pernapasan dan obat-obatan dapat dengan mudah menembus selaput sel. Molekul-molekul yang larut dalam air seperti urea juga ditransfer dengan mudah melalui difusi atau osmosis. Transfer glukosa dimudahkan oleh molekul pengangkut spesifik. Kebanyakan asam amino, kalium, kalsium, dan fosfor diangkut dari ibu sampai ke janin oleh pengangkut spesifik melalui proses yang membutuhkan energi. Peningkatan aliran darah plasenta penting untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan janin. Wanita yang malnutrisi atau wanita dalam kelompok sosial ekonomi rendah memiliki berat plasenta lebih kecil dari wanita yang berasal dari kelompok sosial lebih tinggi. Plasenta wanita yang mengalami malnutrisi memiliki DNA dan protein yang kurang. Hal ini menunjukkan bahwa banyak sel yang berkurang di dalam plasenta wanita yang menderita malnutrisi. Secara analisis permukaan villus berkurang sehingga area transfer ibu dengan janin berkurang. Berat badan lahir bayi berhubungan dengan bobot plasenta.
NUTRISI IBU HAMIL
Selama kehamilan metabolisme ibu diatur oleh sejumlah hormon, nutrisi dan organ reproduksi khusus seperti plasenta dan duktus laktiferus. Kecukupan nutrisi tidak selalu dijumpai pada diet ibu. Perpindahan mineral seperti kalsium, fosfor dan magnesium melalui plasenta dan kemudian untuk persediaan laktasi. Status fisiologi organ reproduksi ibu sebelum kehamilan juga sangat berpengaruh pada pertumbuhan janin. Telah dilakukan beberapa penelitian yang menghubungkan antara status gizi, organ reproduksi dan status sosial ekonomi. Status gizi ibu sebelum dan selama hamil dapat mempengaruhi pertumbuhan janin yang sedang dikandung. Bila status gizi ibu baik pada masa sebelum dan selama hamil kemungkinan besar akan melahirkan bayi yang sehat, cukup bulan dengan berat badan normal. Dengan kata lain kualitas bayi yang dilahirkan sangat tergantung pada keadaan gizi ibu sebelum dan selama hamil. Ibu hamil yang menderita KEK (kurang energi kronis) dan anemia mempunyai kecenderungan melahirkan bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Ibu hamil yang menderita KEK dan Anemia mempunyai resiko kesakitan yang lebih besar terutama pada trimester III kehamilan dibandingkan dengan ibu hamil normal. Akibatnya mereka mempunyai risiko yang lebih besar untuk melahirkan bayi dengan BBLR, kematian saat persalinan, perdarahan, pasca persalinan yang sulit karena lemah dan mudah mengalami gangguan kesehatan lain. Bayi yang dilahirkan dengan BBLR umumnya kurang mampu menerima tekanan lingkungan yang baru, sehingga berakibat pada terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan,bahkan dapat mengganggu kelangsungan hidupnya. Selain itu juga akan meningkatkan risiko kesakitan dan kematian bayi karena lebih rentan terhadap infeksi saluran pernafasan bawah, gangguan belajar, masalah perilaku dan lain sebagainya
Bila ibu mengalami kekurangan gizi selama hamil akan menimbulkan banyak masalah, baik pada ibu maupun janin, seperti diuraikan berikut ini :
1. Terhadap Ibu
Gizi kurang pada ibu hamil dapat menyebabkan risiko dan komplikasi pada ibu antara lain : anemia, perdarahan dan mudah terkena infeksi.
2. Terhadap Persalinan
Pengaruh gizi kurang terhadap proses persalinan dapat mengakibatkan persalinan yang sulit atau lama, persalinan prematur dan pendarahan post partum.
3. Terhadap Janin
Kekurangan gizi pada ibu hamil dapat mempengaruhi proses pertumbuhan janin dan dapat menimbulkan abortus, bayi lahir mati, kematian neonatal,cacat kongenital, anemia pada bayi, asfiksia intra partum, lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR).
V. GEJALA KLINIS
Gejala klinis malnutrisi pada wanita hamil sama dengan malnutrisi pada umumnya. Gejala dan tanda, jenis defisiensi nutrisi serta pengaruhnya terhadap sistem organ sebagai berikut :
Gejala klinis malnutrisi pada wanita hamil sama dengan malnutrisi pada umumnya. Gejala dan tanda, jenis defisiensi nutrisi serta pengaruhnya terhadap sistem organ sebagai berikut :

Tuesday, April 20, 2010
EMBRIOLOGI SISTEM REPRODUKSI
Seks
Perkembangan sistem genitalia merupakan salah satu fase pada perkembangan embriologi manusia. Penentuan seks ditentukan sejak terjadinya fertilisasi di mana kromosom Y atau kromosom X dari sperma laki-laki akan membuahi kromosom X yang terdapat pada ovum wanita. Fase inilah yang akan menentukan jender dari hasil konsepsi. Walaupun jender telah ditentukan pada saat fertilisasi, namun manifestasi dari kode genetik tersebut baru akan bermanifestasi pada minggu ke tujuh dari kehamilan. Namun sebelum minggu ke tujuh, jender masih dapat ditentukan berdasarkan indikasi morfologi dari embrio dengan ada atau tidaknya kromatin sex (Barr body) pada wanita. Barr body adalah hasil dari terhentinya salah satu dari kromosom X. Pada fase tersebut, gamet akan bermigrasi ke dalam primordia gonadal dari kantung yolk. Diferensiasi fenotif dari jender dimulai terbentuknya gonad dan kemudian berkembang dimana gonad akan mempengaruhi perkembangan sistem reproduksi. Hal yang sama juga terjadi terhadap perkembangan genitalia eksternal dan juga perkembangan karakteristik seks sekunder ( misalnya bentuk tubuh, payudara, pola rambut) yang akan menyempurnakan proses perkembangan diferensiasi seksual. Pada fase ini juga terjadinya proses diferensiasi otak berdasarkan seksual hingga nantinya akan mempengaruhi sikap.MENOPAUSE
Pendahuluan
Menopause merupakan bagian dari proses penuaan yang melibatkan sistem reproduksi wanita setelah berhentinya menstruasi. Menopause adalah berhentinya kesuburan dari sistem reproduksi dan seterusnya menyebabkan hilangnya dari aktivitas ovarium beberapa waktu sebelum akhir dari kehidupan. Kata menopause bermaksud akhir dari siklus bulanan yang diambil dari kata Yunani “pauses” yang bermaksud berhenti dan “mens” yang bermaksud bulan. Menopause dari definisinya dimulai 12 bulan setelah menstruasi terakhir dan ditandai dengan gejala-gejala vasomotor yang berterusan dan gejala-gejala dari traktus urogenital seperti kekeringan dari vagina dan dispareunia.
Saturday, April 3, 2010
Kista Bartholini
by : Irwan
I. Pendahuluan
Organ kelamin wanita terdiri atas organ genitalia interna dan organ genitalia eksterna. Kedua bagian besar organ ini sering mengalami gangguan, salah satunya adalah infeksi, infeksi dapat mengenai organ genitalia interna maupun eksterna dengan berbagai macam manifestasi dan akibatnya. Tidak terkecuali pada glandula vestibularis major atau dikenal dengan kelenjar bartolini. Kelenjar bartolini merupakan kelenjar yang terdapat pada bagian bawah introitus vagina. Jika kelenjar ini mengalami infeksi yang berlangsung lama dapat menyebabkan terjadinya kista bartolini, kista bartolini adalah salah satu bentuk tumor jinak pada vulva. Kista bartolini merupakan kista yang terbentuk akibat adanya sumbatan pada duktus kelenjar bartolini, yang menyebabkan retensi dan dilatasi kistik. Dimana isi di dalam kista ini dapat berupa nanah yang dapat keluar melalui duktus atau bila tersumbat dapat dapat mengumpul di dalam menjadi abses.
Kista bartolini ini merupakan masalah pada wanita usia subur, kebanyakan kasus terjadi pada usia 20 sampai 30 tahun dengan sekitar 1 dalam 50 wanita akan mengalami kista bartolini atau abses dalam hidup mereka, sehingga hal ini merupakan masalah yang perlu untuk dicermati. Kista bartolini bisa tumbuh dari ukuran seperti kacang polong menjadi besar dengan ukuran seperti telur. Kista bartolini tidak menular secara seksual, meskipun penyakit menular seksual seperti Gonore adalah penyebab paling umum terjadinya infeksi pada kelenjar bartolini yang berujung pada terbentuknya kista dan abses, sifilis ataupun infeksi bakteri lainnya juga dianggap menjadi penyebab terjadinya infeksi pada kelenjar ini.
Saturday, March 27, 2010
HIPERTIROID DALAM KEHAMILAN
A. Pendahuluan
Kelainan tiroid merupakan kelainan endokrin tersering kedua yang ditemukan selama kehamilan. Berbagai perubahan hormonal dan metabolik terjadi selama kehamilan, menyebabkan perubahan kompleks pada fungsi tiroid maternal. Hipertiroid adalah kelainan yang terjadi ketika kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroid yang berlebihan dari kebutuhan tubuh. Wanita hamil dengan eutiroid memunculkan beberapa tanda tidak spesifik yang mirip dengan disfungsi tiroid sehingga diagnosis klinis sulit ditegakkan. Sebagai contoh, wanita hamil dengan eutiroid dapat menunjukkan keadaan hiperdinamik seperti peningkatan curah jantung, takikardi ringan, dan tekanan nadi yang melebar, suatu tanda-tanda yang dapat dihubungkan dengan keadaan hipertiroid.
Disfungsi tiroid autoimun umumnya menyebabkan hipertiroidisme dan hipotiroidisme pada wanita hamil. Kelainan endokrin ini sering terjadi pada wanita muda dan dapat mempersulit kehamilan, demikian pula sebaliknya. Penyakit Graves terjadi sekitar lebih dari 85 % dari semua kasus hipertiroid, dimana Tiroiditis Hashimoto adalah yang paling sering untuk kasus hipotiroidisme. Tiroiditis postpartum adalah penyakit tiroid autoimun yang terjadi selama tahun pertama setelah melahirkan. Penyakit ini memberikan gejala tirotoksikosis transien yang diikuti dengan hipotiroidisme yang biasanya terjadi pada 8-10% wanita setelah bersalin.
Tuesday, March 16, 2010
PENYAKIT TROFOBLAS GANAS
I. Pendahuluan
Neoplasia trofoblas gestasional (GTN), mencakup spektrum Penyakit dengan berbagai potensi neoplastik dan merupakan salah satu penyakit keganasan padat yang langka pada manusia yang dapat disembuhkan bahkan saat sudah tersebar secara luas. Alasan untuk keberhasilan ini yaitu suatu penanda sensitif, beta-human chorionic gonadotropin (β-hCG), dan kepekaan terhadap berbagai agen dan kemoterapi modalitas lain seperti pembedahan dan radiasi. Penyakit trofoblastik gestasional (GTD) bisa jinak atau ganas. Secara histologis diklasifikasikan ke dalam mola hidatidosa, mola invasif (chorioadenoma destruens), koriokarsinoma, dan site plasenta trofoblastik tumor (PSTT). Mereka yang menyerang secara lokal atau metastasis secara kolektif dikenal sebagai neoplasia trofoblas gestasional (GTN). Mola hidatidosa adalah bentuk paling umum GTN. Sementara mola invasif dan koriokarsinoma adalah ganas, bentuk Molahidatidosa dapat bersifat ganas atau jinak.
Neoplasia trofoblas gestasional (GTN), mencakup spektrum Penyakit dengan berbagai potensi neoplastik dan merupakan salah satu penyakit keganasan padat yang langka pada manusia yang dapat disembuhkan bahkan saat sudah tersebar secara luas. Alasan untuk keberhasilan ini yaitu suatu penanda sensitif, beta-human chorionic gonadotropin (β-hCG), dan kepekaan terhadap berbagai agen dan kemoterapi modalitas lain seperti pembedahan dan radiasi. Penyakit trofoblastik gestasional (GTD) bisa jinak atau ganas. Secara histologis diklasifikasikan ke dalam mola hidatidosa, mola invasif (chorioadenoma destruens), koriokarsinoma, dan site plasenta trofoblastik tumor (PSTT). Mereka yang menyerang secara lokal atau metastasis secara kolektif dikenal sebagai neoplasia trofoblas gestasional (GTN). Mola hidatidosa adalah bentuk paling umum GTN. Sementara mola invasif dan koriokarsinoma adalah ganas, bentuk Molahidatidosa dapat bersifat ganas atau jinak.
Pada tahun 1983, WHO, kelompok ilmiah pada penyakit trofoblas gestasional menerbitkan rekomendasi spesifik mengenai terminologi definisi, klasifikasi, dan stadium dari penyakit trofoblastik. Pada dasarnya, penyakit trofoblas gestasional dapat dibagi ke mola hidatidosa dan tumor trofoblastik gestasional. Istilah neoplasia trofoblas gestasional tidak lagi digunakan karena mola invasif tidak sebetulnya suatu neoplasia. Koriokarsinoma adalah suatu bentuk kanker yang tumbuh cepat yang terjadi dalam rahim wanita (rahim). Merupakan sel yang abnormal dalam jaringan yang biasanya menjadi plasenta, organ yang berkembang selama kehamilan untuk memberi makan janin. Koriokarsinoma adalahsuatu bentuk dari PTG yang sifatnya ganas. Koriokarsinoma merupakan kanker pada manusia yang seringkali dapat diatasi dengan pemberian kemoterapi dan tidak jarang pasiennya dapat sembuh sekalipun penyakitnya sudah menyebar secara luas.Koriokarsinoma dapat tumbuh dari berbagai bentuk konsepsi baik kehamilan normal aterm, abortus, KET, kematian intrauterin, dan mola hidatidosa. Peluang terjadinya koriokarsinoma pascamola sekitar 1000 kali lebih besar dari pada sesudah suatu kehamilan normal.
Tuesday, February 23, 2010
INDUKSI PERSALINAN
DEFINISI
Induksi persalinan adalah usaha agar persalinan mulai berlangsung sebelum atau sesudah kehamilan cukup bulan dengan jalan merangsang timbulnya his. Indikasi-indikasi yang penting ialah postmaturitas dan hipertensi pada kehamilan lebih dari 37 minggu. Untuk dapat melakukan induksi persalinan perlu dipenuhi beberapa kondisi, diantaranya :
- Hendaknya serviks uteri sudah “matang”, yaitu serviks sudah mendatar dan menipis dan sudah dapat dilalui oleh sedikitnya 1 jari, sumbu serviks menghadap ke depan.
- Tidak ada disproporsi sefalopelvik (CPD)
- Tidak ada kelainan letak janin yang tidak dapat dibetulkan
- Sebaiknya kepala janin sudah mulai turun ke dalam rongga panggul.
Apabila kondisi-kondisi ini tidak dipenuhi, maka induksi persalinan mungkin tidak memberi hasil yang diharapkan.
Tuesday, February 2, 2010
KONTRASEPSI PASCA PERSALINAN
Pendahuluan
Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan. Upaya itu dapat bersifat sementara, dapat pula bersifat permanen. Penggunaan kontarsepsi merupakan salah satu variable yang mempengaruhi fertilitas. Sampai saat ini belum ada suatu cara kontrasepsi yang 100% ideal. Ciri-ciri suatu kontrasepsi yang ideal meliputi daya guna, aman, murah, estetik, mudah didapat, tidak memerlukan motivasi terus-menerus, dan efek samping minimal. Berhasil tidaknya sesuatu cara bergantung kepada apakah sel mani (sperma) dapat dicegah dilumpuhkan-dimatikan supaya tidak memasuki arena fertilitas, atau sel telur tidak dikeluarkan atau tidak dapat bertemu dengan sel mani.
Dalam mempelajari kontrasepsi, pengetahuan tentang bagaimana terjadinya kehamilan dan cara kerja kontrasepsi harus dipahami benar-benar, misalnya :
Wednesday, January 27, 2010
PERTUMBUHAN JANIN TERHAMBAT
PENDAHULUAN
Janin yang tumbuh dan berkembang di dalam rahim ibunya pada suatu waktu akan lahir, tetapi tidak semua janin yang dilahirkan itu mempunyai kondisi yang sama. Hal ini amat bergantung kepada berbagai faktor yang berperan selama janin masih hidup didalam kandungan ibunya antara lain lama umur kehamilan dan kemampuan pertumbuhan yang dapat dicapai saat dia dilahirkan. Dari dahulu diperhatikan ada janin yang lahir sebelum aterm, ada yang aterm dan ada yang post-term. Janin yang lahir sebelum mencapai usia kehamilan genap 37 minggu ditetapkandan disebut preterm, dan janin yang lahir dengan berat badan dibawah 10 percentildari rata-rata berat semestinya dari bayi normal diklasifikasikan sebagai bayi small for gestational age (Battaglia dan Lubchencho 1967) atau disebut juga bayi dismatur. Menurut Batttaglia dan Lubchencho bayi-bayi yang lahir terbagi kedalam tiga kategori menurut berat badan lahir sesuai umur kehamilan yaitu bayi-bayi yang dengan berat badan lahir wajar menurut umur kehamilan atau appropriate gestational age (AGA) jika beratnya berada antara 10 percentil dengan 90 percentil, bayi besar atau large for gestational age (LGA) jika beratnya diatas 90 percentil, bayi kecil atau small for gestational (SGA) jika beratnya dibawah 10 percentil.
PEMILIHAN JENIS KELAMIN ANAK PADA PASANGAN SUAMI ISTRI
PENDAHULUAN
Kita semua pernah mendengar orang – orang yang dengan amat sangat menginginkan anak berjenis kelamin tertentu. Ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa anda dapat memilih untuk mengandung bayi laki – laki atau perempuan. Tetapi siapa yang akan mengatakan bahwa itu bukan suatu kebetulan bila anda benar – benar mendapatkannya? Akan juga sangat berguna untuk selalu mengingat dalam benak anda bahwa wanita tidak mempunyai bagian dalam menentukan jenis kelamin bayinya; ini benar – benar tanggung jawab pria dan terdapat jumlah yang sebanding antara sperma jantan dan betina. Sementara tidak seorang pun yang memberikan penjelasan pasti, tampak bahwa setelah ejakulasi, sperma jantan dengan cepat mencari tujuannya, kemudian mengalami kelelahan, sebaliknya sperma perempuan bergerak dengan lambat tetapi bertahan lebih lama. Sebagai contoh kita menggunakan siklus menstruasi “rata-rata” 28 hari.
Saturday, January 9, 2010
KONTRASEPSI ORAL (PIL KB)
PENDAHULUAN
Kontrasepsi memiliki peranan dalam setiap fase reproduksi, yaitu untuk menunda kehamilan atau menjarangkan kehamilan. Upaya itu dapat bersifat sementara, dapat pula bersifat permanen. Penggunaan kontrasepsi merupakan salah satu variable yang mempengaruhi fertilitas. Untuk mencapai tujuan tersebut, salah satu cara yang dapat dilakukan antara lain penggunaan kontrasepsi oral (pil KB).
Pil KB adalah obat pencegah kehamilan yang diminum secara oral yang berisi hormon steroid (estrogen dan progestin) dalam bentuk pil atau tablet.Pil ini diperuntukkan bagi wanita yang tidak hamil dan menginginkan cara pencegahan kehamilan sementara yang paling efektif bila diminum secara teratur.
Pada awal tahun 1930-an para peneliti mengumpulkan cukup banyak informasi mengenai siklus haid dalam hubungannya dengan waktu senggama yang mungkin sekali menghasilkan konsepsi. Tahun 1934 Comer dan Beard menemukan dan mengisolasi struktur progesteron. Tahun 1937 Makepeace menemukan bahwa progesterone mempunyai daya menghambat evolusi pada kelinci. Walaupun demikian, barulah pada pertengahan tahun 1950-an setelah Pincus, Chang, dan Rock menemukan bahwa pemberian progesterone peroral pada hari ke 5 sampai ke 25 daur haid dapat menghambat ovulasi, hormon steroid ini dipakai untuk keperluan kontrasepsi. Percobaan pertama pemakaian.kontrasepsi oral dengan oretinodrel dan mestranol di Puerto Rico pada tahun 1956 membuktikan daya guna yang sangat tinggi sebagai kontrasepsi. Sejak saat itu
sampai sekarang terdapat kecenderungan makin rendahnya dosis dari komponen estrogen dan progesterone di dalam pil.
Perkembangan kontrasepsi hormonal atau pil kontrasepsi berlangsung terus. Tahun 1960 pil kombinasi estrogen-progesteron mulai digunakan. Tahun 1963 pil selcuensial diperkenalkan. Sejak tahun 1965 sampai sekarang banyak diadakan penyesuaian dosis atau penggunaan progesteron saja, sehingga muncul pil mini, dan lain-lain. Perkembangan ini pada umumnya bertujuan mencari suatu kontrasepsi hormonal yang mempunyai daya guna yang tinggi, efek samping yang minimal, dan keluhan pasien yang sekecil-kecilnya.
Pil KB adalah obat pencegah kehamilan yang diminum secara oral yang berisi hormon steroid (estrogen dan progestin) dalam bentuk pil atau tablet.Pil ini diperuntukkan bagi wanita yang tidak hamil dan menginginkan cara pencegahan kehamilan sementara yang paling efektif bila diminum secara teratur.
Pada awal tahun 1930-an para peneliti mengumpulkan cukup banyak informasi mengenai siklus haid dalam hubungannya dengan waktu senggama yang mungkin sekali menghasilkan konsepsi. Tahun 1934 Comer dan Beard menemukan dan mengisolasi struktur progesteron. Tahun 1937 Makepeace menemukan bahwa progesterone mempunyai daya menghambat evolusi pada kelinci. Walaupun demikian, barulah pada pertengahan tahun 1950-an setelah Pincus, Chang, dan Rock menemukan bahwa pemberian progesterone peroral pada hari ke 5 sampai ke 25 daur haid dapat menghambat ovulasi, hormon steroid ini dipakai untuk keperluan kontrasepsi. Percobaan pertama pemakaian.kontrasepsi oral dengan oretinodrel dan mestranol di Puerto Rico pada tahun 1956 membuktikan daya guna yang sangat tinggi sebagai kontrasepsi. Sejak saat itu
sampai sekarang terdapat kecenderungan makin rendahnya dosis dari komponen estrogen dan progesterone di dalam pil.
Perkembangan kontrasepsi hormonal atau pil kontrasepsi berlangsung terus. Tahun 1960 pil kombinasi estrogen-progesteron mulai digunakan. Tahun 1963 pil selcuensial diperkenalkan. Sejak tahun 1965 sampai sekarang banyak diadakan penyesuaian dosis atau penggunaan progesteron saja, sehingga muncul pil mini, dan lain-lain. Perkembangan ini pada umumnya bertujuan mencari suatu kontrasepsi hormonal yang mempunyai daya guna yang tinggi, efek samping yang minimal, dan keluhan pasien yang sekecil-kecilnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)