Saturday, January 9, 2010

KONTRASEPSI ORAL (PIL KB)

PENDAHULUAN
       Kontrasepsi memiliki peranan dalam setiap fase reproduksi, yaitu untuk menunda kehamilan atau menjarangkan kehamilan. Upaya itu dapat bersifat sementara, dapat pula bersifat permanen. Penggunaan kontrasepsi merupakan salah satu variable yang mempengaruhi fertilitas. Untuk mencapai tujuan tersebut, salah satu cara yang dapat dilakukan antara lain penggunaan kontrasepsi oral (pil KB).
        Pil KB adalah obat pencegah kehamilan yang diminum secara oral  yang berisi hormon steroid (estrogen dan progestin) dalam bentuk pil atau tablet.Pil ini diperuntukkan bagi wanita yang tidak hamil dan menginginkan cara pencegahan kehamilan sementara yang paling efektif bila diminum secara teratur.
        Pada awal tahun 1930-an para peneliti mengumpulkan  cukup  banyak informasi mengenai siklus haid dalam hubungannya dengan waktu senggama yang mungkin sekali menghasilkan konsepsi. Tahun 1934 Comer  dan Beard menemukan dan mengisolasi struktur progesteron. Tahun 1937  Makepeace menemukan bahwa progesterone mempunyai daya menghambat evolusi pada kelinci. Walaupun demikian, barulah pada pertengahan tahun 1950-an setelah Pincus, Chang, dan Rock menemukan bahwa pemberian progesterone peroral pada hari ke 5 sampai ke 25 daur haid dapat menghambat ovulasi, hormon steroid ini dipakai untuk keperluan kontrasepsi. Percobaan  pertama pemakaian.kontrasepsi oral dengan oretinodrel dan mestranol di Puerto Rico pada tahun 1956 membuktikan daya guna yang sangat tinggi sebagai kontrasepsi. Sejak saat itu
sampai sekarang terdapat kecenderungan makin rendahnya dosis dari komponen estrogen dan progesterone di dalam pil. 
          Perkembangan kontrasepsi hormonal atau pil kontrasepsi berlangsung terus. Tahun 1960 pil kombinasi estrogen-progesteron mulai digunakan. Tahun 1963 pil selcuensial diperkenalkan. Sejak tahun 1965 sampai sekarang banyak diadakan penyesuaian dosis atau penggunaan progesteron saja, sehingga muncul pil mini, dan lain-lain. Perkembangan ini pada umumnya bertujuan mencari suatu kontrasepsi hormonal yang mempunyai daya guna yang tinggi, efek samping yang minimal, dan keluhan pasien yang sekecil-kecilnya.

INSIDEN
 Pil kontrasepsi dipergunakan oleh kurang lebih 50 Juta akseptor di  seluruh dunia. Kenaikan jumlah akseptor terlihat terutama dalam 20 tahun terakhir  ini. Di Indonesia diperkirakan kurang lebih 60% akseptor menggunakan pil kontrasepsi. Jumlah ini tampaknya akan tetap tinggi dibandingkan dengan jumlah akseptor yang mempergunakan cara kontrasepsi yang lain. Dalam suatu penelitian tahun 1998 di Amerika Serikat  didapatkan  bahwa pengguna pil kontrasepsi meningkat hingga di atas 50%. Hal ini mungkin dikarenakan mudahnya penggunaan pil kontrasepsi. Sebagian besar penilitian menunjukkan bahwa dari setiap 100 wanita yang menggunakan pil KB setiap tahunnya, akan ada 2 atau 3 kehamilan, ini merupakan angka efektivitas tertinggi (98,5%) dari alat kontrasepsi yang lain, terkecuali sterilisasi permanen (tubektomi). Penyebab kegagalan dari pil KB ini bisa disebabakn karena lupa minum pil atau karena muntah.
MEKANISME KERJA PIL KONTRASEPSI
        Mekanisme pil kontrasepsi adalah meniru proses-proses alamiah. Pil kontrasepsi akan menggantikan produksi normal estrogen dan progesteron oleh ovarium. Pil kontrasepsi akan menekan ovarium selama siklus haid yang normal, sehingga juga menekan releasing-factors di otak dan akhirnya menekan ovulasi.
Sebelum mengetahui mekanisme dari pil kontrasepsi kita perlu mengetahui terlebih dahulu siklus reproduksi wanita. Siklus repoduksi wanita memerlukan kira-kira 28 hari untuk menyiapkan dan melepaskan ovum pada
pertengahan siklus, mempersiapkan lingkungan uterus dan bila tidak terjadi konsepsi, maka terjadi peluruhan dinding endometrium menyebabkan terjadinya perdarahan yang dikenal dengan menstruasi (haid).
        Hormon yang mengatur siklus haid adalah estrogen dan progesteron. Kadar kedua hormon ini di kontrol oleh  Gonadotropin Releasing Hormon (GnRH) yang bersal dari hipotalamus, untuk mengirimkan isyarat-isyarat ke kelenjar hipofisis, kemudian kelenjar hipofisis terangsang untuk mengeluarkan Follicle Stimulating Hormon (FSH) dan Lutenizing Hormon (LH). FSH merangsang pembentukkan folikel primer di  dalam ovarium yang mengelilngi satu oosit primer. Folikel primer dan oosit primer akan tumbuh sampai hari ke-14 hingga folikel menjadi matang yang disebut dengan folikel de Graaf. Folikel  de Graaf  yang matang melepaskan hormon estrogen, adanya hormon estrogen menyebabkan pembentukan kembali (proliferasi) sel-sel penyusun dinding endometrium. Peningkatan konsentrasi estrogen selama pertumbuhan folikel juga mempengaruhi serviks untuk mengeluarkan lendir yang bersifat basa yang berguna untuk menetralkan sifat asam pada serviks agar lebih mendukung lingkungan hidup sperma.
       Peningkatan kadar estrogen selama fase pra-ovulasi menyebabkan reaksi umpan balik negatif ke hipofisis untuk menurunkan konsentrasi dari FSH dan menyebabkan hipofisis melepaskan LH. LH merangsang pelepasan oosit sekunder dari folikel de Graaf pada saat inilah di sebut ovulasi.
Pada fase pasca ovulasi fiolikel de Graaf yang di tinggalkan oleh oosit sekunder akan berkerut dan berubah menjadi korpus luteum. Korpus luteum akan memproduksi estrogen dan progesteron. Progesteron mendukung kerja estrogen dengan menebalkan dinding endometrium dan menumbuhkan pembuluh-pembuluh darah pada dinding endometrium. Progesteron juga merangsang sekresi lendir pada vagina dan pertumbuhan kelenjar air susu pada payudara.Progesteron dan estrogen juga berfungsi untuk menyiapkan penanaman (implantasi) zigot pada uterus bila terjadi pembuahaan.
        Pasca ovulasi ini berlangsung dari hari ke-15 sampai hari ke-28, bila sekitar hari ke-26 tidak terjadi pembuahan, korpus  luteum akan berubah menjadi korpus albikan, sehingga konsentrasi estrogen dan progesteron akan menurun. Pada kondisi ini hipofisis menjadi aktif untuk melepaskan kembali FSH dan selanjutnya LH untuk fase menstruasi selanjutnya.
Jenis pil kombinasi adalah :
  • Monofasik: pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif estrogen/progestin (E/P) dalam dosis yang sama, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif. 
  • Bifasik pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif estrogen/progestin (E/P) dengan dua dosis yang berbeda, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif.  
  • Trifasik : pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif estrogen/progestin (EIP) dengan tiga dosis yang berbeda, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif. 
Keuntungan penggunaan pil kombinasi :
  • Memiliki efektivitas yang tinggi (hampir menyerupai efektivitas tubektomi), bila digunakan setiap hari  
  • Risiko terhadap kesehatan sangat kecil 
  • Tidak mengganggu hubungan seksual. 
  • Siklus haid menjadi teratur, banyaknya darah haid berkurang (mencegah anemia), tidak terjadi nyeri haid.  
  • Dapat digunakan jangka panjang selama perempuan masih ingin menggunakannya untuk mencegah kehamilan.  
  • Dapat digunakan sejak usia remaja hingga menopause. 
  • Mudah dihentikan setiap saat. 
  • Kesuburan segera kembali setelah penggunaan pil dihentikan. 
  • Dapat digunakan sebagai kontrasepsi darurat. 
  • Membantu mencegah: . kehamilan ektopik, kanker ovarium, kanker endometrium, kista ovarium, penyakit radang panggul, akne dan lain-lain
 Kerugian pil kombinasi :  
  • Mahal dan membosankan karena harus menggunakannya setiap hari.  
  • Mual, terutama pada 3 bulan pertama  
  • Perdarahan bercak atau perdarahan sela, terutama 3 bulan pertama.
  • Pusing.
  • Nyeri payudara.
  • Berat badan naik sedikit, tetapi pada perempuan tertentu kenaikan berat badan justru memiliki dampak positif Berhenti haid (amenorea), jarang pada pil kombinasi. 
  • Tidak boleh diberikan pada ibu menyusui (mengurangi ASI) 
  • Pada sebagian kecil perempuan dapat menimbulkan depresi, dan perubahan suasana hati, sehingga keinginan untuk melakukan hubungan seks berkurang. 
  • Dapat meningkatkan tekanan darah dan retensi cairan, sehingga resiko stroke, dan gangguan pembekuan darah pada vena dalam sedikit meningkat. 
  • Tidak mencegah IMS (Infeksi Menular Seksual), HBV, HIV/AIDS.
...Untuk lebih jelasnya Download

No comments:

Post a Comment

Post a Comment