Tuesday, March 16, 2010

PENYAKIT TROFOBLAS GANAS

I. Pendahuluan       
Neoplasia trofoblas gestasional (GTN), mencakup spektrum Penyakit dengan berbagai potensi neoplastik dan merupakan salah satu penyakit keganasan padat yang langka pada manusia yang dapat disembuhkan bahkan saat sudah tersebar secara luas. Alasan untuk keberhasilan ini yaitu suatu penanda sensitif, beta-human chorionic gonadotropin (β-hCG), dan kepekaan terhadap berbagai agen dan kemoterapi modalitas lain seperti pembedahan dan radiasi. Penyakit trofoblastik gestasional (GTD) bisa jinak atau ganas. Secara histologis diklasifikasikan ke dalam mola hidatidosa, mola invasif (chorioadenoma destruens), koriokarsinoma, dan  site plasenta trofoblastik tumor (PSTT). Mereka yang menyerang secara lokal atau metastasis secara kolektif dikenal sebagai neoplasia trofoblas gestasional (GTN). Mola hidatidosa adalah bentuk paling umum GTN. Sementara mola invasif dan koriokarsinoma adalah ganas, bentuk Molahidatidosa dapat bersifat ganas atau jinak.
      Pada tahun 1983, WHO, kelompok ilmiah pada penyakit trofoblas gestasional menerbitkan rekomendasi spesifik mengenai terminologi definisi, klasifikasi, dan stadium dari penyakit trofoblastik. Pada dasarnya, penyakit trofoblas gestasional dapat dibagi ke mola hidatidosa dan tumor trofoblastik gestasional. Istilah neoplasia trofoblas gestasional tidak lagi digunakan karena mola invasif tidak sebetulnya suatu neoplasia. Koriokarsinoma adalah suatu bentuk kanker yang tumbuh cepat yang terjadi dalam rahim wanita (rahim). Merupakan sel yang abnormal dalam jaringan yang biasanya menjadi plasenta, organ yang berkembang selama kehamilan untuk memberi makan janin. Koriokarsinoma adalahsuatu bentuk dari PTG yang sifatnya ganas. Koriokarsinoma merupakan kanker pada manusia yang seringkali dapat diatasi dengan pemberian kemoterapi dan tidak jarang pasiennya dapat sembuh sekalipun penyakitnya sudah menyebar secara luas.Koriokarsinoma dapat tumbuh dari berbagai bentuk konsepsi baik kehamilan normal aterm, abortus, KET, kematian intrauterin, dan mola hidatidosa. Peluang terjadinya koriokarsinoma pascamola sekitar 1000 kali lebih besar dari pada sesudah suatu kehamilan normal.

Tuesday, February 23, 2010

INDUKSI PERSALINAN

DEFINISI
Induksi persalinan adalah usaha agar persalinan mulai berlangsung sebelum atau sesudah kehamilan cukup bulan dengan jalan merangsang timbulnya his. Indikasi-indikasi yang penting ialah postmaturitas dan hipertensi pada kehamilan lebih dari 37 minggu. Untuk dapat melakukan induksi persalinan perlu dipenuhi beberapa kondisi, diantaranya :  
  1. Hendaknya serviks uteri sudah “matang”, yaitu serviks sudah mendatar dan menipis dan sudah dapat dilalui oleh sedikitnya 1 jari, sumbu serviks  menghadap ke depan. 
  2. Tidak ada disproporsi sefalopelvik (CPD) 
  3. Tidak ada kelainan letak janin yang tidak dapat dibetulkan 
  4. Sebaiknya kepala janin sudah mulai turun ke dalam rongga panggul. 
Apabila kondisi-kondisi ini tidak dipenuhi, maka induksi persalinan mungkin tidak memberi hasil yang diharapkan.

Tuesday, February 2, 2010

KONTRASEPSI PASCA PERSALINAN

Pendahuluan 
    Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah terjadinya  kehamilan. Upaya itu dapat bersifat sementara, dapat pula bersifat permanen. Penggunaan kontarsepsi merupakan salah satu variable yang mempengaruhi fertilitas. Sampai saat ini belum ada suatu cara kontrasepsi yang 100% ideal. Ciri-ciri suatu kontrasepsi yang ideal meliputi daya guna, aman, murah, estetik, mudah didapat, tidak memerlukan motivasi terus-menerus, dan efek samping minimal. Berhasil tidaknya sesuatu cara bergantung kepada apakah sel mani (sperma) dapat dicegah dilumpuhkan-dimatikan supaya tidak memasuki arena fertilitas, atau sel telur tidak dikeluarkan atau tidak dapat bertemu dengan sel mani.
Dalam mempelajari kontrasepsi, pengetahuan tentang bagaimana terjadinya kehamilan dan cara kerja kontrasepsi harus dipahami benar-benar, misalnya :

Wednesday, January 27, 2010

PERTUMBUHAN JANIN TERHAMBAT

PENDAHULUAN
Janin yang tumbuh dan berkembang di dalam rahim ibunya pada suatu waktu akan lahir, tetapi tidak semua janin yang dilahirkan itu mempunyai kondisi yang sama. Hal ini amat bergantung kepada berbagai faktor yang berperan selama janin masih hidup didalam kandungan ibunya antara lain lama umur kehamilan dan kemampuan pertumbuhan yang dapat dicapai saat dia dilahirkan. Dari dahulu diperhatikan ada janin yang lahir sebelum aterm, ada yang aterm dan ada yang post-term. Janin yang lahir sebelum mencapai usia kehamilan genap 37 minggu ditetapkandan disebut preterm, dan janin yang lahir dengan berat badan dibawah 10 percentildari rata-rata berat semestinya dari bayi normal diklasifikasikan sebagai bayi  small for gestational age  (Battaglia dan Lubchencho 1967) atau disebut juga bayi dismatur. Menurut Batttaglia dan Lubchencho bayi-bayi yang lahir terbagi kedalam tiga kategori menurut berat badan lahir sesuai umur kehamilan yaitu bayi-bayi yang dengan berat badan lahir wajar menurut umur kehamilan atau appropriate gestational age (AGA)  jika beratnya berada antara 10 percentil dengan 90 percentil, bayi besar atau large for gestational age (LGA) jika beratnya diatas 90 percentil, bayi kecil atau small for gestational (SGA) jika beratnya dibawah 10 percentil.

PEMILIHAN JENIS KELAMIN ANAK PADA PASANGAN SUAMI ISTRI

PENDAHULUAN
        Kita semua pernah mendengar orang – orang yang dengan amat sangat menginginkan anak berjenis kelamin tertentu. Ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa anda dapat memilih untuk mengandung bayi laki – laki atau perempuan. Tetapi siapa yang akan mengatakan bahwa itu bukan suatu kebetulan bila anda benar – benar mendapatkannya? Akan juga sangat berguna untuk selalu mengingat dalam benak anda bahwa wanita tidak mempunyai bagian dalam menentukan jenis kelamin bayinya; ini benar – benar tanggung jawab pria dan  terdapat jumlah yang sebanding antara sperma jantan dan betina. Sementara tidak seorang pun yang memberikan penjelasan pasti, tampak bahwa setelah ejakulasi, sperma jantan dengan cepat mencari tujuannya, kemudian mengalami kelelahan, sebaliknya sperma perempuan bergerak dengan lambat tetapi bertahan lebih lama. Sebagai contoh kita menggunakan siklus menstruasi “rata-rata” 28 hari. 

Saturday, January 9, 2010

KONTRASEPSI ORAL (PIL KB)

PENDAHULUAN
       Kontrasepsi memiliki peranan dalam setiap fase reproduksi, yaitu untuk menunda kehamilan atau menjarangkan kehamilan. Upaya itu dapat bersifat sementara, dapat pula bersifat permanen. Penggunaan kontrasepsi merupakan salah satu variable yang mempengaruhi fertilitas. Untuk mencapai tujuan tersebut, salah satu cara yang dapat dilakukan antara lain penggunaan kontrasepsi oral (pil KB).
        Pil KB adalah obat pencegah kehamilan yang diminum secara oral  yang berisi hormon steroid (estrogen dan progestin) dalam bentuk pil atau tablet.Pil ini diperuntukkan bagi wanita yang tidak hamil dan menginginkan cara pencegahan kehamilan sementara yang paling efektif bila diminum secara teratur.
        Pada awal tahun 1930-an para peneliti mengumpulkan  cukup  banyak informasi mengenai siklus haid dalam hubungannya dengan waktu senggama yang mungkin sekali menghasilkan konsepsi. Tahun 1934 Comer  dan Beard menemukan dan mengisolasi struktur progesteron. Tahun 1937  Makepeace menemukan bahwa progesterone mempunyai daya menghambat evolusi pada kelinci. Walaupun demikian, barulah pada pertengahan tahun 1950-an setelah Pincus, Chang, dan Rock menemukan bahwa pemberian progesterone peroral pada hari ke 5 sampai ke 25 daur haid dapat menghambat ovulasi, hormon steroid ini dipakai untuk keperluan kontrasepsi. Percobaan  pertama pemakaian.kontrasepsi oral dengan oretinodrel dan mestranol di Puerto Rico pada tahun 1956 membuktikan daya guna yang sangat tinggi sebagai kontrasepsi. Sejak saat itu
sampai sekarang terdapat kecenderungan makin rendahnya dosis dari komponen estrogen dan progesterone di dalam pil. 
          Perkembangan kontrasepsi hormonal atau pil kontrasepsi berlangsung terus. Tahun 1960 pil kombinasi estrogen-progesteron mulai digunakan. Tahun 1963 pil selcuensial diperkenalkan. Sejak tahun 1965 sampai sekarang banyak diadakan penyesuaian dosis atau penggunaan progesteron saja, sehingga muncul pil mini, dan lain-lain. Perkembangan ini pada umumnya bertujuan mencari suatu kontrasepsi hormonal yang mempunyai daya guna yang tinggi, efek samping yang minimal, dan keluhan pasien yang sekecil-kecilnya.

Friday, January 8, 2010

Angiogenesis during primate placentation in health and disease

          Normal embryonic developmentis dependent upon asufficient oxygen, nutrient and waste exchange through the placenta. Inprimates including humans, this exchange is attained by successful haemochorial placentation which requires the transformation of maternal intramyometrial spiral arterioles by trophoblast invasion to gainuteroplacental circulation,and establishment and maintenance of acompetent fetoplacental vasculature. Thus,trophoblast and endothelial cell differentiation, proliferation and invasion occurring during placentation have to be tightly regulated.This review focuse son the diverse developmental steps during haemochorial placentation in humans and other primates and the possible involvement of angiogenic growth factors (vascular endothelial growth factor(VEGF)and angiopoietins(Ang)) in these processes, high lighting the importance of specific actions of angiogeniclig and–receptor pairs.It is hypothe sized thatVEGF/VEGF-R1and Ang-1/Tiereceptor2 (Tie-2)may regulate trophoblast differentiation and invasion; VEGF/VEGF-R2 and Ang-1/Tie-2 may promotefeto placental vascular development and stabilization; and Ang-2/Tie-2 maybe involved in maternal vascular remodelling.The importance of a tigh tregulation of angiogenic factors and their endogenousantagonists for normal development of the placenta is demonstrated by failure of this system, resulting in abnormal placenta vascularization and trophoblastinvasion associated with intrauterine growth retardationor pre-eclampsia.